SELAMAT DATANG DI ASGUN INSTITUTE " BANGKIT BERSAMA KAUM MUDA!!! MARI BERBUAT AGAR HIDUP BERMANFAAT " Asgun Institute: DIALEKTIKA BUDAYA

"Bangkit Bersama Kaum Muda" "Kami Siap Memegang Amanat!"

"Bangkit Bersama Kaum Muda" "Kami Siap Memegang Amanat!"
"Mari Berbuat Agar Hidup Bermanfaat"

Sabtu, 28 Juni 2008

DIALEKTIKA BUDAYA

Oleh : Asep Gunawan

Yang masih saya ingat dari kata-kata terakhir almarhum guru saya, al-ustadz Nasihin, beberapa hari sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya adalah : “Ambilah kebenaran itu walaupun dia keluar dari mulut anak kecil sekalipun”. Pada saat itu, saya tidak benar-benar serius memikirkannya, maklum dalam suasana yang masih diliputi kepedihan yang mendalam. Namun, sekarang saya dapat menemukan kebenaran sejati dari kata-kata terakhir guru yang saya cintai itu, manakala menghadapi kondisi umat yang semakin terasa kurang dekat dengan kondisi idealnya, baik secara identitas personal maupun identitas social.
Seiring dengan kemajuan besar peradaban yang diperoleh manusia, dalam gerak sejarah terjadi pergeseran pola pemikiran yang pengaruhnya sangat besar terhadap pola hidup dan kehidupan manusia. Kita sadar, bahwa seluruh gerak aktivitas manusia sangat dipengaruhi oleh inter-tekstualitas (apa yang dibaca dan dipelajarinya) dan inter-subjektivitas (bagaimana ideologinya, agamanya, serta pergaulannya) yang mengkonstruksi sistimatika pemikirannya. Dengan demikian, manusia berpikir, bertutur, dan berprilaku didasarkan atas konstruksi pemikirannya itu.
Ada kecenderungan, umat sekarang ini seperti lupa terhadap sunatullah evolusi gerak sejarah yang bergerak dinamis. Sehingga kedinamisan gerak sejarah itu tidak diikuti dengan usaha-usaha kreatif dan inovatif untuk mengimbanginya. Akhirnya, dalam gerak sejarah yang bersipat dinamis itu, umat hanya dapat menjadi penonton atau bahkan, ini yang umumnya terjadi, menjadi “objek penderita” kemajuan gerak sejarah peradaban manusia.
Seperti diungkapkan Carles Darwin, Survival of The Fittest, hanya pemikiran yang siap fight dan kreatif yang akan tetap konsisten hidup. Pemikiran yang stagnan dan apalagi mundur, walaupun secara penomena masih kentara, akan kelihatan “pucat” dan “kering” tanpa sinar inovasi; dan lambat laun, akhirnya akan kehilangan relevansinya dengan gerak sejarah; dan akhirnya terkubur : mati.
Romantisasi pada sejarah kesuksesan masa lalu memang perlu. Tapi, sejauh mana romantisasi itu dapat membangkitkan “etos” budaya dan pemikiran, ini yang lebih signifikan dan mendasar. Kelemahan kita, upaya romantisasi banyak menenggelamkan dan mengharuskan kita hidup dalam angan-angan masa lalu, sehingga lupa terhadap pijakan realitas masa sekarang.
Dalam karya monumentalnya – kitab “Muqadimah”, ilmuan sosial muslim, Ibnu Khaldun, meyakini tesis bahwa gerak sejarah adalah : lahir, tumbuh, berkembang, sukses, dan kemudian tenggelam. Dalam proses alamiah ini, untuk mempertahankan eksistensi dan dinamisasi, mau tidak mau, harus melibatkan empat konsep evolusi “perjuangan” yang dirumuskan oleh Darwin, yakni : struggle for life, survival of the fittest, natural selection, dan progress.
Pada saat itu, akan sangat penting kesadaran dialektika budaya dan pemikiran. Kesadaran dialektika akan memunculkan rumusan tesis budaya dan pemikiran yang terbuka dan tidak “mati”. Oleh karena itu, tatkala muncul antitesis mengkritiknya, yang muncul bukan budaya dan pemikiran yang bersipat apologis. Tetapi budaya dan pemikiran sintesis yang bersipat dialogis dan “berbudaya”.
Prinsip budaya dan pemikiran klasik, “al-muhafadzah bi a-qadim al-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-aslah” (menjaga tradisi budaya dan pemikiran yang lama yang baik, dan mengambil tradisi budaya dan pemikiran yang baru yang lebih baik), sepertinya harus kembali ditradisikan dalam khazanah budaya dan pemikiran umat – baik sebagai identitas personal maupun identitas sosial. Dan ini merupakan harga mati bagi cita-cita kemajuan peradaban.
Wa Allah A’lam bi al-Shawwab

Tidak ada komentar: