SELAMAT DATANG DI ASGUN INSTITUTE " BANGKIT BERSAMA KAUM MUDA!!! MARI BERBUAT AGAR HIDUP BERMANFAAT " Asgun Institute: MENTALITAS INSTAN DAN UN 2007

"Bangkit Bersama Kaum Muda" "Kami Siap Memegang Amanat!"

"Bangkit Bersama Kaum Muda" "Kami Siap Memegang Amanat!"
"Mari Berbuat Agar Hidup Bermanfaat"

Kamis, 19 Juni 2008

MENTALITAS INSTAN DAN UN 2007

Oleh : Asep Gunawan

Menyebut kata ini rasanya mustahil orang tidak mengenalnya. Kata ini sudah begitu populis “berteman-mesra” dengan telinga kita. Begitu populisnya sampai-sampai anak pertama penulis yang belum genap berumur tiga tahun sekalipun sudah paseh menyebutkan kata ini ketika ingin menikmati semangkok mie (instan noodle). Yah, kata instan ada dimana-mana dan terbiasa dikenal serta dipakai oleh siapapun. Dari mulai ibu-ibu yang terbiasa di wilayah domestik (dapur), bapak-bapak di wilayah publik (tempat kerja) dan anak-anak kita di wilayah keceriaan dan kelucuan mereka. Teknologi sekarang ini, banyak memberikan keserba-mudahan (instan) dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Namun, berbanding lurus dengan revolusi teknologi instan ini, ada denyut revolusi mentalitas besar sedang mengintai kita. Seperti diungkapkan sosiolog Ogburn W.F., penemuan teknologi menjadi faktor utama bagi terjadinya perubahan sosial. Secara teoritis, Ogburn menyebutkan bahwa kebudayaan terbagi dalam dua katagori : material dan non-material. Keduanya mendorong terjadinya perubahan dan saling mendahului untuk terjadinya perubahan. Menurut Ogburn, biasanya yang pertama terjadi perubahan adalah pada kebudayaan material, sementara kebudayaan non-material dan perubahannya mengikuti kemudian. Perubahan dalam kebudayaan material adalah penyebab perubahan kebudayaan non-material.
Di satu sisi, teknologi instan adalah bentuk kebudayaan material; sementara di sisi lain, mentalitas budaya merupakan wujud dari kebuyaan non-material. Sebagaimana logika “pengaruh budaya” Ogburn di atas, teknologi serba instan secara empirik telah menumbuh-kembangkan mentalitas budaya instan di masyarakat. Akibat terkondisikan oleh pola hidup serba-mudah, terasa ataupun tidak, mengakibatkan terpatrinya mentalitas ingin serba-mudah (instan) dalam menghadapi segala sesuatunya. Proses dan prosedur tidak dianggap sebagai tata-mekanisme yang bersipat sunatullah, yang akan membedakan bobot kualifikasi antar individu.
Dalam konteks pendidikan, mentalitas instan ini begitu kuat terpatri dalam relung-relung jiwa stakeholder pendidikan bangsa ini. Pasca Ujian Nasional (UN) kemarin, masih menyisakan kepedihan yang mendalam bagi dunia pendidikan. Hanya karena merasa “sayang” terhadap anak didik agar dapat lulus, berbagai upaya instan-pun kemudian dilakukan; dari mulai upaya yang kelihatan seperti “ideal” sampai yang “menjijikan”. Ketika mendekati waktu UN (sekali lagi : ketika mendekati waktu UN), biasanya sekolah-sekolah begitu gencar mengkampanyekan pentingnya belajar, itu-pun biasanya dikhususkan untuk kelas 3. Dari mulai memfasilitasi dengan bimbingan belajar tambahan (karena di luar jam, jelas siswa harus bayar) sampai secara sporadis menggelar latihan pengisian soal-soal (try-out) UN. Pemegang kebijakan pendidikan di tingkat kabupaten-pun biasanya terkena syndrom ini; rame-rame memfasilitasi try-out, mulai dari yang tujuannya ikhlas sampai yang sengaja menungganginya untuk tujuan yang bersipat politis.
Walaupun instan, upaya itu barangkali agak lebih bernurani ketimbang upaya “menjijikan” seperti yang pernah terjadi dahulu di “negeri kaum pemimpi”. Karena merasa “sayang” terhadap anak didik, cara-cara tidak mendidik bukan hanya dibiarkan, melainkan justru dilegitimasi dengan instruksi dan kebijakan. Hanya satu keinginan : “Pokoknya anak-anak harus lulus!”. Caranya? Yah, dipikirkan!
Kembali, karena terbiasa dengan pola hidup serba instan, sebagai bawahan, kepala dinas, kepala sekolah dan guru biasanya menggunakan cara-cara instan pula. Bagi dunia pendidikan di “negeri kaum pemimpi”, cara-cara instan memang “emmooy” : tak perlu repot, cukup diseduh dengan air panas macheavelisme dan kemudian diaduk secara merata agar tidak nampak kelihatan bercak bumbu-bumbunya. Setelah itu, kita sruput kenikmatannya.
Ada indikasi baru, karena diprediksi Tim Pengawas Independen (TPI) UN tahun 2007 ini bekerja akan lebih ekstra ketat dalam mengontrol pelaksanaan UN, panitia UN sekolah atas instruksi kepala sekolah - yang biasanya atas nama pertaruhan gengsi sekolah - mencoba mencari cara dan strategi baru berpola instan untuk “mensukseskan” UN tahun 2007 di sekolahnya masing-masing.
Kita tidak sadar, bahwa di balik kenikmatan pola instan, terkandung zat-zat kimiawi yang super berbahaya bagi tubuh. Dalam jangka lama, bahayanya baru akan terasa dalam bentuk penyakit akut dan kronis. Kalau sudah akut dan kronis, biaya pengobatannya tentu akan sangat mahal.
Ketidak-siapan menghadapi gelombang dahsyat revolusi perubahan sosial, menyebabkan bangsa yang belum memiliki “keajegan” kepribadian budaya (local genius) ini berada dalam keterombang-ambingan budaya. Tapi itu tidak boleh berlangsung lama!
Dalam hitungan hari, UN Tahun 2007 akan mendatangi kita. Buktikan! bahwa kita benar-benar sejati menyayangi anak-anak bangsa ini. Kesadaran akan bahaya pola-pola instan dalam menghadapi UN Tahun 2007 adalah modal terbesar bagi kita dan bangsa ini. Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita memulai.

Wa Allah A’lam bi al-Shawwab....

1 komentar:

Asgun Institute mengatakan...

saya sangat apresiatif sekali, dengan adanya blog asgun institute ini, alasannya, tak semua orang tahu, akan dunia pemikiran secara lengkap dan mendalam, jika tidak membuka blog ini. terima kasih.
silvia.mahasiswi pasca sarjana UGM Jogyakarta.