SELAMAT DATANG DI ASGUN INSTITUTE " BANGKIT BERSAMA KAUM MUDA!!! MARI BERBUAT AGAR HIDUP BERMANFAAT " Asgun Institute: BACALAH !, BUKAN BELILAH ! (Menunggu Realisasi BOS Untuk Perpustakaan)

"Bangkit Bersama Kaum Muda" "Kami Siap Memegang Amanat!"

"Bangkit Bersama Kaum Muda" "Kami Siap Memegang Amanat!"
"Mari Berbuat Agar Hidup Bermanfaat"

Jumat, 27 Juni 2008

BACALAH !, BUKAN BELILAH ! (Menunggu Realisasi BOS Untuk Perpustakaan)

Oleh : Asep Gunawan

Pagi menjelang berangkat sekolah, tak seperti biasanya Imas (yang dikenal pintar) terlihat lesu kurang bersemangat. Dari mulai mengambil handuk mandi sampai mengambil tas dan sepatu, dilakukan Imas seperti setengah hati. Ucapan salam dan cium tangan pada ibunya - yang biasa dilakukan setiap akan berangkat sekolah, terdengar agak sedikit hambar. Gaya jalan yang biasanya mensiratkan semangat juang “tholab ilmu”, kini terlihat hilang tenggelam oleh langkah lunglai kaki seperti diseret-seret. Imas pada hari ini, jelas berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Imas dua hari lalu - yang rajin, ceria, dan bersemangat.
Ibunya yang sudah memasuki masa-masa udzur dan sering sakit-sakitan, hanya bisa termangu melihat kondisi kejiwaan anaknya saat itu. Apa hendak dikata, bila pada saat itu, dia belum bisa memenuhi keinginan anak bungsunya; bersegera membelikan buku-buku paket pelajaran. Setelah dibagi dengan sejumlah kebutuhan hidup, sisa uang pengsiun suaminya kemarin, tiga hari lalu sudah habis dibelikan obat. Bila harus mengambil dulu dari alokasi untuk kebutuhan hidup - yang memang sudah diminimkan, rasanya tidak mungkin. Ini sama artinya dengan membiarkan untuk tidak makan selama seminggu atau mungkin dua mingguan.
Coba saja hitung! Uang pensiun suaminya yang tidak besar, berkisar Rp. 500.000-an, harus dibagi kebutuhan hidup Rp. 300.000 (perhari tidak lebih dari Rp. 10.000). Sisanya sebesar Rp. 200.000, yang biasanya digunakan untuk keperluan bulanan (membayar rekening air ledeng dan listrik) dan keperluan sekolah anaknya (membeli pakaian, buku, jajan, dan transportasi), Rp. 150.000 sudah berubah bentuknya menjadi obat. Yang tersisa tinggal Rp. 50.000. Buat ongkos transportasi dan jajan anaknya sebesar Rp. 2.500 perhari selama sebulan saja, kok rasanya tidak akan mencukupi. Sementara untuk membeli buku-buku paket pelajaran, diperlukan uang sebanyak Rp. 300.000-an.
Tentu kita patut apresiatif, bahwa ternyata pihak sekolah memberikan dispensasi kepada orang tua siswa untuk membayarnya dengan cara mencicil. Namun, apalah artinya nilai dispensasi itu bagi orang tua Imas, kalau seandainya dispensasi itu hanya berlaku selama tiga bulan. Paling tidak, orang tua Imas harus mengeluarkan Rp. 100.000-an perbulan untuk mencicilnya. Bila tidak harus membeli obat, barang kali tidak akan sedalam sekarang ini orang tua Imas menghela napas.
Kini, tinggal Imas yang harus menanggung beban kejiwaan. Ketika gurunya masuk kelas, berbeda dengan teman-temannya yang bisa duduk dengan tenang, Imas terlihat ‘guling gasahan’ berkeringat. Masih terngiang di telinganya ketika guru itu berucap dengan nada sinis merendahkan, hanya karena di depan Imas belum terlihat buku paket mata pelajaran yang diwajibkannya untuk dibeli. Tentu saja Imas ingin seperti teman-temannya. Dengan uang yang tidak seberapa dari hasil simpanan uang jajannya, walaupun tahu melanggar hukum, Imas sebetulnya sudah memiliki keinginan untuk memfhoto-copy buku paket itu. “Yang penting tidak ketinggalan pelajaran,” pikirnya saat itu. Tapi apa lacur, ketika Imas mengatakan keinginannya itu pada gurunya, malah terkena getah yang lebih parah dan melekat lagi.
Imas sepertinya harus merelakan dirinya dituai badai ‘kapitalisme pendidikan’ yang (sengaja) diciptakan oleh sistem pendidikan kita sekarang ini. Padahal, Imas tahu betul, bahwa yang terpenting dari mata pelajaran itu bukan secara formalitas harus memiliki - dengan cara membeli - buku-buku paket (dan mungkin LKS). Namun, yang lebih substantif dan esensial adalah membaca (iqro’), mengerti, menguasai, dan mampu mengembangkan teori-teori keilmuan yang terkandung di dalam mata pelajaran. Buku hanyalah salah satu medium diantara medium-medium penting lainnya. Oleh karena itu, yang terpenting adalah membacanya, bukan membelinya. Caranya? Terserah, pokoknya harus bisa membaca untuk menguasai isinya, bukan membelinya yang terkadang hanya untuk dikoleksi saja. “Bukankah ilmu itu ada dalam akal hati dan akal pikiran kita; bukan ada dalam tulisan,” kata hati Imas mengutip nasehat yang diajarkan guru agamanya ketika masih duduk di bangku SD. Imas jelas menjadi tidak mengerti.
Kasihan Imas harus menghadapi kondisi yang sebetulnya tidak diinginkannya. Kasihan Imas harus berhadapan dengan salah satu bentuk ketidak-rasionalan dari sistem pendidikan yang sedang dibangun paksa oleh bangsa kita. Kasihan juga Imas harus terpaksa merasionalisasikan ketidak-rasionalan sistem pendidikan kita dengan pola pikir ‘jabariyah’ (da eta mah tos taqdirna ti gusti Allah kitu. Tos teu tiasa dikumaha-kumaha), sebagaimana Imas-Imas yang lain terpaksa merasionalisasikannya.
“Loh, apanya yang tidak rasional,” ujar sejawat penulis agak keheranan.
Dengan nada yang berapi-api, sejawat penulis lain yang agak kritis menukas, “Bagaimana mau dikatakan rasional, bila buku-buku paket pelajaran harus berubah dalam satu tahun pelajaran, sehingga tidak bisa diwariskan kepada adiknya. Memangnya perkembangan teori keilmuan dalam pelajaran itu berubah setiap tahun. Memangnya sudah subur ethos dan jihad penelitian keilmuan berkembang di negeri kita ini.”
Kalau sudah begitu, penulis biasanya cuman bisa menengahi : “Makanya, dalam mensikapinya, gunakan logika kapitalisme (baca : orientasinya nilai keuntungan). Insya Allah, akan mudah memahaminya. Jangan gunakan logika sosialisme (baca : orientasinya nilai empati kemanusiaan), jelas akan terasa sulit dimengerti”.
Kasihan Imas (yang dikenal pintar) yang mungkin saja kepintarannya tidak akan dikenal lagi. Kini, Imas hanya bisa menunggu realisasi BOS yang lebih realistis untuk mengobati masalahnya.
Wa Allah A’lam bi al-Shawwab.

Tidak ada komentar: